AKSI TNI PROTES RAKYAT
Jakarta (Koran kobar)- Rezim SBY
benar-benar paranoid dengan aksi protes. Ini terlihat dengan pendekatan
represif rezim berkuasa terhadap aksi-aksi protes rakyat. Dalam tiga bulan
protes saja, sudah 461 pemrotes yang ditangkap. Belum lagi, curhat “SBY” telah
menjadi dalih untuk mengubah Indonesia
seperti negara “darurat militer”.
Dalam beberapa hari ini,
kita mulai menyaksikan kehadiran tentara bersenjata lengkap di mana-mana: di
SPBU, di kantor-kantor pemerintah, dan tempat-tempat atau objek vital strategis
lainnya. Di Jakarta saja, jumlah tentara yang dikerahkan mencapai puluhan ribu
personil. Situasi serupa juga terjadi di daerah-daerah lainnya di Indonesia.
Sejak orde baru hingga
sekarang, penghayatan militer Indonesia
akan fungsinya belum juga bergeser: sebagai penjaga kekuasaan. Ini terungkap
dari praktik penggunaan TNI, yang notabene alat negara, untuk membentengi
kepentingan rejim berkuasa. Padahal, dalam sumpah prajurit TNI dikatakan: “saya
akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.” Artinya, TNI dalam menjaga NKRI harus
mengacu atau tunduk kepada Pancasila dan UUD 1945, bukan kepada rejim berkuasa.
Dalam “delapan wajib
TNI” antara lain disebutkan: bersikap ramah tamah kepada rakyat, bersikap sopan
kepada rakyat, tidak sekali-kali merugikan rakyat, dan menjadi contoh dan
mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya.
Sudahkan setiap anggota/prajurit TNI melaksanakan sikap-sikap di atas?
Kenaikan harga BBM
adalah bukti kegagalan rezim SBY mengelola kekayaan energi nasional untuk
kepentingan nasional. Meskipun kita punya sumber energi yang melimpah, baik
energi tak terbarui maupun terbarui, tetapi rezim SBY tidak bisa menggunakannya
untuk memakmurkan rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya: rezim SBY mengobral
kekayaan energi itu kepada korporasi asing.
Jika mengacu pada
Pancasila dan UUD 1945, prinsip pengelolaan energi mestinya mengabdi pada
keadilan sosial atau kesejahteraan seluruh rakyat. Logika mencari untung atau
kapitalisasi sama sekali tidak dibenarkan oleh ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Tetapi yang dilakukan rezim SBY justru berlawanan dengan prinsip Pancasila dan
UUD 1945: harga BBM diserahkan kepada mekanisme pasar, pengelolaan energi
(termasuk migas) diserahkan kepada korporasi asing, dan keuntungan dari
pengelolaan energi pun tidak dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.
Semua orang mulai sadar
betul dengan keadaan itu sekarang. Rakyat yang tidak puas dengan pengelolaan
energi yang berbau kolonial itu pun mulai bangkit melakukan perlawanan. Dengan
demikian, protes kenaikan harga BBM harus dimaknai sebagai tindakan patriotik massa rakyat Indonesia untuk menjaga kedaulatan
bangsanya dalam pengelolaan energi dan kekayaan alam lainnya.
Rezim SBY sudah
menghianati Pancasila dan UUD 1945. Hampir semua praktik kenegaraan menyimpang
dari Pancasila dan UUD 1945. Rejim SBY, yang didukung oleh politisi DPR yang
pro-imperialis itu, telah membongkar UUD 1945 itu dengan menghilangkan roh
anti-penjajahannya. Sistim politik kita pun dibuat sangat liberal menyerupai
“demokrasi barat”.
Dengan demikian, jika
TNI melindungi rezim pelanggar Pancasila dan UUD 1945, maka TNI sudah
menghianati tugas patriotiknya sebagai ‘Bhayangkari negara’ dan mengingkari
rahim yang melahirkannya: Rakyat. Maka pantas saja jika TNI tega dan rela
mengarahkan moncong senapan kepada rakyatnya sendiri.
Seharusnya, jika TNI
masih patriotik dan pro-rakyat, maka tindakan yang mesti dilakukan adalah
mendukung aksi-aksi protes rakyat itu. Dan, seperti militer Bolivia yang pro
kepentingan nasional itu, TNI mestinya menyebar pasukannya untuk merebut
kendali perusahaan-perusahaan asing yang sudah merampok kekayaan alam kita.
Kepada prajurit TNI kita
ingatkan pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman: “Pelihara TNI, pelihara
angkatan perang kita. Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun
juga. Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang
mudah dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa
dan sedia berkorban bagi Bangsa dan Negara. (Dykky/Sukarno)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar