DUET DAHSYAT UNTUK PEMBAHARUAN JAKARTA DARI PASANGAN JOKOWI DAN AHOK
Jakarta (Koran Kobar)- Salah satu pasangan
calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2012, adalah duet
Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (nama asli Zhong Wan Xie) yang tergolong
muda, yang dikenal dengan duet Jokowi-Ahok. Jokowi berusia 50 tahun dan Ahok
berusia 45 tahun. Jokowi telah sukses menjadi Walikota Solo dan telah dapat
kehormatan sebagai Wali Kota Terbaik tahun 2011. Salah satu keberhasilannya
adalah menjadikan Solo sebagai The Spirit of Java. Selain itu Jokowi juga
begitu dekat dan menyatu dengan rakyat. Jokowi sering terlihat makan dan
bertanya langsung melalui rakyat di warung-warung pinggir jalan, tanpa merasa
terganggu dengan jabatan dirinya sebagai Walikota. Gebrak-gebrakannya terlihat
berani dan selalu peduli pada kehidupan rakyat, seperti pernah bersengketa
dengan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengenai rencana pembangunan mal di
lokasi bekas pabrik es Saripetojo. Jokowi yang sejak mulai menjabat menunjukkan
kebijakan yang pro-rakyat kecil menentang dengan keras penggusuran Saripetojo
yang mencatat sejarah sebagai salah satu pabrik es pertama di Indonesia.
Sebaliknya, Bibit Waluyo ingin agar pabrik es itu digusur dan diganti sebuah
pusat perbelanjaan modern, dan secara terbuka di depan publik Gubernur Jawa
Tengah itu memaki Jokowi sebagai “bodoh”.
Kemudian Ahok termasuk Bupati Belitung Timur periode
2005-2010 yang telah berhasil didaerahnya, seperti menjalankan program bebas
biaya kesehatan buat warganya. Ahok juga dikenal sebagai tokoh yang bersih dan
profesional, seorang bupati satu-satunya yang memilih transparan dengan
menjelaskan kepada warganya atas pertanggungjawaban duit negara yang digunakan,
sebagai upaya pembenahan birokrasi dan pengentasan warga Belitung
Timur dari jerat kemiskinan. Logika politik Ahok memang membingungkan dan sukar
diterka. Cara berpolitik Ahok naif dan gila. Bukannya membagikan uang, Ahok
malah membagikan nomor HP pribadi. Bukannya memanipulasi pencitraan, Ahok malah
bergantung pada ketulusan dan kejujuran dalam bicara dan bertindak. Bukannya
ikut dalam budaya politik korup untuk cari selamat, Ahok malah menerabas semua
praktik kongkalikong. Ahok adalah aktivis politik yang berhasil
menjungkir-balikkan hitungan dan teori politik. Di Bangka Belitung, Ahok
dianggap ancaman paling serius bagi kepentingan politisi dan pengusaha korup.
Di gedung DPR, Ahok dianggap pengacau yang tanpa cacat moral dan politik. Bagi
rakyat kecil dimanapun yang mengenal dia, Ahok adalah harapan untuk masa depan yang
lebih baik. Saat masih menjabat bupati, Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang
terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), KADIN dan Kementerian
Negara Pemberdayaan Aparatur Negara (Kemenpan), memberinya penghargaan kepada
Ahok yang dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara
negara, karena Ahok dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat
Pemerintah Daerah pada saat ia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur
Pencalonan duet Jokowi-Ahok ini dinilai merupakan
keputusan yang berani karena mendobrak semua paham mainstream yang ada tentang
latar belakang kandidat kepala daerah, yang mana kedua figur ini merupakan
orang luar Jakarta dan sama sekali tidak memenuhi demografi mainstream yang
selama ini ada. Selama ini partai politik yang mengusung calon kepala daerah
disetiap pilkada, masih saja terkungkung paham lama soal latar belakang
kandidat ketimbang kemampuannya secara personal. Partai biasanya senang
menduetkan calon dari kalangan sipil dengan dari militer, dan latar etnis juga
masih menjadi pertimbangan dalam setiap Pilkada DKI Jakarta. Tapi duet Jokowi-Ahok, sama sekali
tak memenuhi atau mencakup kriteria demografis mainstream seperti itu. Pasangan
ini terlihat lebih menitikberatkan pada kredibilitas dan track record selama ini.
Sebagai calon, Jokowi dan Ahok mencanangkan tekad untuk
tidak terikat rutinitas dan pekerjaan monoton di belakang meja, karena duet ini
bertekad akan melakukan perubahan. Jika duet Jokowi-Ahok terpilih, duet ini
berkomitmen akan selalu meluangkan lebih banyak waktu untuk turun ke lapangan,
melihat langsung problem Jakarta
dari dekat dan akan bertemu langsung dengan warga di lapangan. Duet Jokowi-Ahok
ternyata selalu optimistis dan tidak khawatir dengan para pesaingnya di bursa
pencalonan, lantaran duet Jokowi-Ahok adalah pasangan muda. Yang muda tentu
lebih mudah untuk bisa melakukan perubahan.
Bagi warga masyarakat pinggiran, duet Jokowi-Ahok
diyakini akan membawa perubahan pada Jakarta.
Alasannya, dinilai akan memberikan sentuhan kemanusiaan berbeda dalam menata Jakarta. Kalau selama ini
penataan lebih didasarkan atas nama kekuasaan, maka dengan duet Jokowi-Ahok
yang selalu mengutamakan dialog dengan warga sebelum mengambil kebijakan, akan
membuat warga DKI Jakarta justru merasa dihargai, diwongke, dimanusiakan,
karena tidak akan dijadikan obyek pembangunan. Kombinasi dua tipikal pemimpin
seperti inilah yang akan menghadirkan perubahan pada Jakarta. Pedagang kecil dan rakyat jelata
mengharapkan sekali pembaruan dengan sentuhan baru yang memanusiakan, dan yang
menempatkannya sebagai pemangku kepentingan pembangunan kota. Semoga saja terpilih, Amien. (Dykky/Sukarno)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar