Senin, 26 Maret 2012

DUET DAHSYAT UNTUK PEMBAHARUAN JAKARTA DARI PASANGAN JOKOWI DAN AHOK


Jakarta (Koran Kobar)- Salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2012, adalah duet Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (nama asli Zhong Wan Xie) yang tergolong muda, yang dikenal dengan duet Jokowi-Ahok. Jokowi berusia 50 tahun dan Ahok berusia 45 tahun. Jokowi telah sukses menjadi Walikota Solo dan telah dapat kehormatan sebagai Wali Kota Terbaik tahun 2011. Salah satu keberhasilannya adalah menjadikan Solo sebagai The Spirit of Java. Selain itu Jokowi juga begitu dekat dan menyatu dengan rakyat. Jokowi sering terlihat makan dan bertanya langsung melalui rakyat di warung-warung pinggir jalan, tanpa merasa terganggu dengan jabatan dirinya sebagai Walikota. Gebrak-gebrakannya terlihat berani dan selalu peduli pada kehidupan rakyat, seperti pernah bersengketa dengan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengenai rencana pembangunan mal di lokasi bekas pabrik es Saripetojo. Jokowi yang sejak mulai menjabat menunjukkan kebijakan yang pro-rakyat kecil menentang dengan keras penggusuran Saripetojo yang mencatat sejarah sebagai salah satu pabrik es pertama di Indonesia. Sebaliknya, Bibit Waluyo ingin agar pabrik es itu digusur dan diganti sebuah pusat perbelanjaan modern, dan secara terbuka di depan publik Gubernur Jawa Tengah itu memaki Jokowi sebagai “bodoh”.
Kemudian Ahok termasuk Bupati Belitung Timur periode 2005-2010 yang telah berhasil didaerahnya, seperti menjalankan program bebas biaya kesehatan buat warganya. Ahok juga dikenal sebagai tokoh yang bersih dan profesional, seorang bupati satu-satunya yang memilih transparan dengan menjelaskan kepada warganya atas pertanggungjawaban duit negara yang digunakan, sebagai upaya pembenahan birokrasi dan pengentasan warga Belitung Timur dari jerat kemiskinan. Logika politik Ahok memang membingungkan dan sukar diterka. Cara berpolitik Ahok naif dan gila. Bukannya membagikan uang, Ahok malah membagikan nomor HP pribadi. Bukannya memanipulasi pencitraan, Ahok malah bergantung pada ketulusan dan kejujuran dalam bicara dan bertindak. Bukannya ikut dalam budaya politik korup untuk cari selamat, Ahok malah menerabas semua praktik kongkalikong. Ahok adalah aktivis politik yang berhasil menjungkir-balikkan hitungan dan teori politik. Di Bangka Belitung, Ahok dianggap ancaman paling serius bagi kepentingan politisi dan pengusaha korup. Di gedung DPR, Ahok dianggap pengacau yang tanpa cacat moral dan politik. Bagi rakyat kecil dimanapun yang mengenal dia, Ahok adalah harapan untuk masa depan yang lebih baik. Saat masih menjabat bupati, Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara (Kemenpan), memberinya penghargaan kepada Ahok yang dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara negara, karena Ahok dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat Pemerintah Daerah pada saat ia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur
Pencalonan duet Jokowi-Ahok ini dinilai merupakan keputusan yang berani karena mendobrak semua paham mainstream yang ada tentang latar belakang kandidat kepala daerah, yang mana kedua figur ini merupakan orang luar Jakarta dan sama sekali tidak memenuhi demografi mainstream yang selama ini ada. Selama ini partai politik yang mengusung calon kepala daerah disetiap pilkada, masih saja terkungkung paham lama soal latar belakang kandidat ketimbang kemampuannya secara personal. Partai biasanya senang menduetkan calon dari kalangan sipil dengan dari militer, dan latar etnis juga masih menjadi pertimbangan dalam setiap Pilkada DKI Jakarta. Tapi duet Jokowi-Ahok, sama sekali tak memenuhi atau mencakup kriteria demografis mainstream seperti itu. Pasangan ini terlihat lebih menitikberatkan pada kredibilitas dan track record selama ini.
Sebagai calon, Jokowi dan Ahok mencanangkan tekad untuk tidak terikat rutinitas dan pekerjaan monoton di belakang meja, karena duet ini bertekad akan melakukan perubahan. Jika duet Jokowi-Ahok terpilih, duet ini berkomitmen akan selalu meluangkan lebih banyak waktu untuk turun ke lapangan, melihat langsung problem Jakarta dari dekat dan akan bertemu langsung dengan warga di lapangan. Duet Jokowi-Ahok ternyata selalu optimistis dan tidak khawatir dengan para pesaingnya di bursa pencalonan, lantaran duet Jokowi-Ahok adalah pasangan muda. Yang muda tentu lebih mudah untuk bisa melakukan perubahan.
Bagi warga masyarakat pinggiran, duet Jokowi-Ahok diyakini akan membawa perubahan pada Jakarta. Alasannya, dinilai akan memberikan sentuhan kemanusiaan berbeda dalam menata Jakarta. Kalau selama ini penataan lebih didasarkan atas nama kekuasaan, maka dengan duet Jokowi-Ahok yang selalu mengutamakan dialog dengan warga sebelum mengambil kebijakan, akan membuat warga DKI Jakarta justru merasa dihargai, diwongke, dimanusiakan, karena tidak akan dijadikan obyek pembangunan. Kombinasi dua tipikal pemimpin seperti inilah yang akan menghadirkan perubahan pada Jakarta. Pedagang kecil dan rakyat jelata mengharapkan sekali pembaruan dengan sentuhan baru yang memanusiakan, dan yang menempatkannya sebagai pemangku kepentingan pembangunan kota. Semoga saja terpilih, Amien. (Dykky/Sukarno)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar